Layang-layang memang identik dengan laki-laki, tak lain karena mayoritas penggemar mainan angkasa ini adalah laki-laki. Tak jarang hobi bermain layang-layang sewaktu kecil akan terus terbawa hingga dewasa. Atas dasar hobi inilah sebagian penyinta mainan terbang ini lantas membuat kreasi layang-layang sendiri baik sebagai koleksi pribadi maupun dijadikan lahan bisnis.

Sebagaimana Ramos, pengusaha layang-layang hias ini menekuni dunia usahanya berawal dari kegemaran bermain layang-layang. Sejak kecil Ramos suka menerbangkan layang-layang, bahkan mainannya tersebut ia buat dengan tangannya sendiri. Kepada Timlo.net, Selasa (5/10), Ramos mengaku kemampuannya membuat layang-layang ia kuasai sejak kelas tiga SD secara otodidak. Keseriusannya terhadap dunia layang-layang hias dimulainya pada tahun 1998 saat dirinya masih berjualan makanan di Pasar Klewer. Profesi sebagai pengusaha layang-layang hias bermula ketika pada tahun tersebut layang-layang Ramos ditawar seorang penghobi saat bermain bersama para penyinta layang-layang. Sejak saat itulah ia merasa bisnis layang-layang cukup prospektif dijadikan sebagai sumber penghasilan.

Ramos menuturkan, ”Kali pertama berjualan layang-layang kertas ukuran besar di kawasan Purwosari. Setelah pasar terlihat jenuh pindah ke kawasan Solo Baru. Saat pangsa pasar menurun pindah lagi ke Baron hingga sekarang.”

Dalam sehari dirinya mengaku mampu menyelesaikan pembuatan layang-layang hias sebanyak lima hingga enam buah. Bahkan saat musim layang-layang dalam sehari mampu memproduksi sepuluh buah.

Ketika ditanya perihal keterampilan yang harus dimiliki pengrajin layang-layang hias, Ramos mengatakan, modal utama adalah mempunyai jiwa seni dengan daya imajinasi tinggi. Kemampuan ini juga harus didukung dengan bakat melukis serta mampu mengukur keseimbangan kerangka layang-layang secara akurat.

Disinggung mengenai bahan pembuatan layang-layang hias, dipaparkan Ramos, “Bahan dari kain parasut dengan pewarnaan motif menggunakan kombinasi cat minyak dan sablon. Sedangkan kerangka dari pring ori beruas panjang dan tua.” Untuk mendapatkan kerangka berkualitas tinggi, lanjut Ramos, bambu direndam selama sepekan dan dijemur. Hasilnya kerangka dapat tahan hingga puluhan tahun karena tidak akan dimakan rayap.

Dari bisnis layang-layang hias ini, Ramos mengaku pernah mendapat pesanan senilai Rp 2,5 juta. Desain layang-layang yang dipesan adalah bentuk ular piton yang dikerjakan oleh tujuh orang selama dua pekan. Saat ini pengusaha layang-layang ini menjajakan hasil kreasinya di kawasan bundaran Baron Jl Dr Radjiman.